Pada waktu itu hari pun merasa sepi
Setelah jatuh di puncak-puncak langit
Bibir berkata suara itu rapuh
Dalam titik irama yang keruh
Seperti madu dan syair syahdu
Gempi talak ombak melibas pantainya
Dan tidak pernah mengeluh dan lesu
Biarpun gurindam itu terus mengalun
Hujan juga pastinya ikut menyanyi seiring mentari yang semakin diam
Sirih pinang juga tigak lagi berbicara
Kerana hilang setelah kapurnya dijamah
Gambi yang kelat itu dihanyutkan
Maka berdengup debar luka itu
Apabila kelopak malam mulai pecah
Lidah tidak lagi bersuara
Melabuhkan rindu yang semakin gelisah
Biarlah daun dan pokok itu bercanda
Dan bebu juga ikut melahirkan badai
Menuju ke sisik-sisik itu ke puncak
Bersama kerikil-kerikil yang deman
Kerana bintik2 hujan yang turun belum sempat airnya dikeringkan
Kita ini adalah sebagai pelangi
Di musim gentiing yang gementar
Kita nantikan bulan itu pudar
Dan kita nantikan bila mentari akan berbicara.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan