Sesungguhpun dia mempunyai kepala,
Kata bapak,kepalanya sangat bebal
Tak terawan di langit
Tak terbumi di tanah.
Hari-hari dia bawa bebal
Dari batas tanah ke tasik minda
Dia bawa bebal
Dalam tempurung kuasa
Katanya; inilah kepala sang dewata.
Kepala intergriti roh jiwa manusia.
Maka hidup dia dengan bebal kepalanya
Dan membebelkan kepala kepala orang lain
Di mimbar restoren di pasar
Hingga sekalian kepala
Menjadi sekalian menjadi demikian bebal.
Pada malam mengambang,kata bapak,pada setiap malam mengambang
Sang bebal dan bebal2nya
Berkumpul di suatu tempat
Di sudut hati menikmati lagu jesnita.
Sesungguhpun kaau tiada kepala, kata bapak,yang lebih mulia
Daripada kepala sang bebal
Yang membebalkan bangsa.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan